Jumat, 16 Oktober 2009

وما كفر سليمان......

TAFSIR QS. AL-BAQARAH 102

الكاتب: ابن روستام
المنقول من: التفسيرالأحكام من القران لمحمد علي ا لصا بوني

واتبعوا على ملك سليمان وما كفر سليمان ولكن الشاطين كفروا يعلمون الناس السحر وما أنزل على المكين ببابيل هاروت وماروت وما يعلمان من أحد حتى يقولا أنما نحن فتنة فلا تكفر فيتعلمون منهما ما يفرقون به بين المرئ وزوجه وماهم بضارين به من أحد ألا بأذنه ويتعلمون ما يضرهم ولا ينفعهم ولقد علموا لمن اشتراه ماله في الأخرة من خلاق ولبئسما أنفسهم لوكانوا يعلمون. ( البقرة :102)

"Dan mereka mengikuti apa-apa yang dibaca oleh syaitan-syaitan pada masa kerajaan Nabi Sulaiman (dan mereka mengatakan bahwa Sulaiman itu telah melakukan sihir), padahal Nabi Sulaiman itu tidak kafir (tidak melakukan sihir), akan tetapi syaitan-syaitan itulah yang telah melakukan sihir. Mereka mengajarkan sihir kepada manusia dan apa-apa yang telah diturunkan kepada dua Malaikat di negri Babil yaitu Harut dan Marut, sedangkan keduanya tidak mengajarkan sesuatu kepada seorangpun sebelum mengatakan: "Sesungguhnya kami hanyalah ujian atau cobaan bagimu, sebab itu janganlah kamu kufur".
Maka mereka mempelajari dari kedua malaikat itu apa yang dengan sihir itu, mereka dapat menceraikan antara seorang suami dengan istrinya. Dan mereka itu (ahli sihir) tidak memberi mudlarat dan dengan sihirnya kepada seorangpun kecualai dengan izin Allah. Dan mereka mempelajari sesuatu yang memberi kemadlaratan kepadanya dan tidak memberi manfaat. Demi, sesungguhnya mereka telah meyakini bahwa barangsiapa yang menukarnya (kitab Allah) dengan sihir itu, tidaklah baginya keuntungan di akhirat, dan amat jahatlah perbuatana mereka menjual dirinya dengan sihir, kalau mereka mengetahui". (Q. S. Al-Baqarah : 102 ).

Sababun Nujul

Imam Ibnul Jauji berpendapat mengenai sebab turunnya ayat ini ada dua pendapat:
Yang pertama: bahwasanya orang Yahudi tidak pernah bertanya kepada Nabi saw. melainkan apa-apa yang ditanyakan kepadanya itu dijawab semuanya. Kemudian mereka kembali bertanya lagi kepada beliau kali ini tentang sihir. Mereka mendebat beliau mengenai permasalahan ini sehingga Rasulullah saw. tidak bisa berbuat apa-apa, pada saat itu pula turunlah ayat ini sebagai jawaban atas pertanyaan mereka.
Adapun yang ke dua: Ketika Nabi Sulaiman diceriterakan atau disebutkan dalam al-Qur'an, berkatalah orang-orang Yahudi Madinah: Tidakkah engkau merasa heran kepada Nabi Muhammad, dia mengira bahwa Ibnu Daud (Nabi Sulaiman) itu adalah seorang Nabi. Demi Allah, bukanlah dia melainkan seorang tukang sihir. Betepatan dengan ini turunlah ayat ini untuk menghapus pandangan orang-orang Yahudi Madinah.
وما كفر سليمان ولكن الشياطين كفروا..............
"dan Nabi Sulaiman itu tidak kufur (melakukan sihir), tetapi syaithan-syaithan itulah yang kufur............

Syarah Mufradat
Sihir menurut bahasa;
Menurut Imam Ar-Raghib Al-Ashfahany; sihir ialah sesusatu yang lembut atau halus. Beliau juga memberikan pengertian as-sihru mengandung pengertian al-khid'u yang berarti menipu.
Imam al- Ajhary berpendapat: Asal atau pokok pada sihir itu ialah membelokkan, mengecoh, memalingkan dari hakekat kepada yang lainnya. Maka seolah-olah penyihir itu ketika memperlihatkan sesuatu yang bathil itu benar. Maka orang-orang pun berkhayal bahwa itu benar-benar terjadi. Sesutau telah menyihir dari wajahnya mengandung pengertian dia telah dipalingkan atau terkecoh.
Menurut Imam al-Jauhary: as-sihru berarti al-khad'u yang artinya menipu, disebut demikian karena membelokkan atau mengecoh pandangan orang-orang sehingga mereka berpandangan bahwa apa yang dilakukan penyihir merupakan sesuatu hal yang nyata dan benar.

Syarah Ijmaly
Ayat ini mengandung niat busuk orang-orang Yahudi dan usaha untuk mencelakakan hamba-hamba Allah dari jalan-Nya yang lurus.
Sihir belum dikenal sama sekali kecuali di kalangan orang-orang Yahudi, ini menunjukkan bahwa segala macam sihir itu bersumber dari Yahudi.
Mereka melanggar kitab Allah dan mengikuti langkahkah-langkah atau cara-cara syaitahan, hati mereka sudah tertutup dari cahaya kebenaran dan berlumur dengan kebathilan.
Mereka (orang-orang Yahudi) giat mempelajari sihir dan mengajarkannya kepada orang lain, ini bertujuan tiada lain dan tiada bukan hanyalah untuk menyesatkan manusia, agar mereka jauh al-Qur'an dan bodoh akan agama Allah yang mulia.
Ketahuilah, mereka sudah menjadi budak-budak syaithan yang terlaknat.

Sesungguhnya orang-orang Yahudi melemparkan kitab Allah ke belakang punggung-punggung mereka dalam arti mereka tidak mau menjadikan kitab Allah menjadi pedoman hidup mereka. Seolah-olah mereka tidak tahu bahwa itu adalah kitab Allah yang telah diturunkan kepada Nabi Saw. dan mereka mengikuti jalan-jalan syaithan seperti mempelajari sihir dan sulap-menyulap yang mereka pelajari di masa kerajaan Nabi Sulaiman. Ingatlah Nabi Sulaiman itu bukanlah seorang penyihir tetapi syaithanlah yang selalu membisik-bisikan kepada manusia dan meyakinkan kepada mereka bahwa mereka (syaithan-syaithan) itu mengetahui hal-hal yang ghaib, dan mengajarkan sihir kepada mereka sehingga tersebarlah ilmu sihir di kalangan manusia.
Sebagaimana pemuka-pemuka Yahudi, mereka mengikuti jalan-jalan sihir dan mempelajari sulap-menyulap. Demikian pula mereka mengikuti apa yang telah diturunkan kepada dua malaikat yaitu Harut dan Marut tepatnya di Babil.
Sungguh Allah Swt. Telah menurunkan keduanya untuk mengajarkan sihir, sebagai suatu ujian bagi manusia. Dan mereka mengajarkan sihir itu bukan untuk sihir akan tetapi untuk menajauhkannya. Dan supaya mereka menampakkan kepada manusia mengenai perbedaan antara mukjizat dan sihir.

Hanya Allah Ta'ala yang berhak menguji hamba-hamba-Nya atas apa-apa yang ia kehendaki. Sebagaimana diujinya kaum Luth dengan sungai.
Dan sungguh sudah bertambah banyak sihir-sihir pada masa itu. Karena bertambah banyaknya sihir-sihir pada masa itu, sehingga menyebabkan runtuhkan keyakinan tehadap kenabian. Lalu Allah Ta'la mengutus dua malaikat ke muka bumi ini untuk mengajarkan sihir. Sesungguhnya keduanya telah memperingatkan kepada manusia dari melakukan sihir dan mempergunakannya dalam kejelekan dan kemadlaratan. Tiap kali mereka mengajarkan kepada manusia tentang sihir, mereka selalu berkata: "Hanyalah ini merupakan ujian dari Allah, maka janganlah kalian kufur karena itu". Dan bertakwalah kepada-Nya dan jangan mempergunakan sihir itu dalam kemaldaratan.

Maka barang siapa yang mempelajarinya untuk menghindari bahayanya, maka dia sealamat dan tetap dalam keimanan. Sebaliknya barang siapa yang mempelajarinya untuk menyakiti atau memberikan kemaldaratan kepada manusia, maka dia termasuk orang-orang yang sesat dan telah kufur. Sedangkan manusia itu ada dua golongan, golongan pertama yaitu mereka yang berniat baik dan tidak membahayakan orang lain, mereka inilah orang-orang yang beruntung. Adapun golongan yang kedua, mereka berniat busuk atau jelek yaitu untuk mencelakakan manusia dan memberikan kemadlaratan kepadanya, mereka inilah orang-orang yang rugi dunia maupun akhirat.
Maka syurga tak pantas bagi mereka, nerakalah tempat yang seburuk-buruk bagi mereka. Na'udzu billahi min dzaalika.

Sekiranya mereka, orang-orang yang mempelajari sihir beriman kepada Allah dan takut akan azab Allah, niscaya mereka akan diberikan ganjaran oleh Allah dengan ganjaran yang berlipat ganda terhadap apa-apa yang telah mereka kerjakan.
Dari urusan-urusan yang berbahaya ini, sesungguhnya tidak akan dihasilkan sedikitpun kemanfaatan, tetapi sebalikkan akan menimbulkan kecelakaan, kerugian, dan kehancuran .

Kesimpulan

1. Nabi Sulaiman adalah seorang Nabi juga seorang Raja. Dan dia bukanlah seorang penyihir

2. Syaithan menghiasi manusia dengan sihir agar manusia menjadi kufur kepada Tuhannya dan membisikan mereka bahwa (syaithan- syaithan) itu mengetahui hal-hal yang ghaib

3. Sihir itu mempunyai hakekat dan dampak atau akibat kepada diri kita

4. Allah Swt. Maha menghengdaki untuk menguji hamba-hamba-Nya

5. Barangsiapa yang menukarkan sihir dengan Kitab Allah, maka di hari kelak nanti ia tidak akan mempeoleh rahmat dari Tuhannya

6. Beruntunglah orang-orang yang beriman kepada Allah dan tidak mencampuradukkan keimanan mereka dengan sihir. Kelak mereka akan memperoleh pahala dan rahmat yang tak

وما كفر سليمان......

TAFSIR QS. AL-BAQARAH 102

الكاتب: ابن روستام
المنقول من: التفسيرالأحكام من القران لمحمد علي ا لصا بوني

واتبعوا على ملك سليمان وما كفر سليمان ولكن الشاطين كفروا يعلمون الناس السحر وما أنزل على المكين ببابيل هاروت وماروت وما يعلمان من أحد حتى يقولا أنما نحن فتنة فلا تكفر فيتعلمون منهما ما يفرقون به بين المرئ وزوجه وماهم بضارين به من أحد ألا بأذنه ويتعلمون ما يضرهم ولا ينفعهم ولقد علموا لمن اشتراه ماله في الأخرة من خلاق ولبئسما أنفسهم لوكانوا يعلمون. ( البقرة :102)

"Dan mereka mengikuti apa-apa yang dibaca oleh syaitan-syaitan pada masa kerajaan Nabi Sulaiman (dan mereka mengatakan bahwa Sulaiman itu telah melakukan sihir), padahal Nabi Sulaiman itu tidak kafir (tidak melakukan sihir), akan tetapi syaitan-syaitan itulah yang telah melakukan sihir. Mereka mengajarkan sihir kepada manusia dan apa-apa yang telah diturunkan kepada dua Malaikat di negri Babil yaitu Harut dan Marut, sedangkan keduanya tidak mengajarkan sesuatu kepada seorangpun sebelum mengatakan: "Sesungguhnya kami hanyalah ujian atau cobaan bagimu, sebab itu janganlah kamu kufur".
Maka mereka mempelajari dari kedua malaikat itu apa yang dengan sihir itu, mereka dapat menceraikan antara seorang suami dengan istrinya. Dan mereka itu (ahli sihir) tidak memberi mudlarat dan dengan sihirnya kepada seorangpun kecualai dengan izin Allah. Dan mereka mempelajari sesuatu yang memberi kemadlaratan kepadanya dan tidak memberi manfaat. Demi, sesungguhnya mereka telah meyakini bahwa barangsiapa yang menukarnya (kitab Allah) dengan sihir itu, tidaklah baginya keuntungan di akhirat, dan amat jahatlah perbuatana mereka menjual dirinya dengan sihir, kalau mereka mengetahui". (Q. S. Al-Baqarah : 102 ).

Sababun Nujul

Imam Ibnul Jauji berpendapat mengenai sebab turunnya ayat ini ada dua pendapat:
Yang pertama: bahwasanya orang Yahudi tidak pernah bertanya kepada Nabi saw. melainkan apa-apa yang ditanyakan kepadanya itu dijawab semuanya. Kemudian mereka kembali bertanya lagi kepada beliau kali ini tentang sihir. Mereka mendebat beliau mengenai permasalahan ini sehingga Rasulullah saw. tidak bisa berbuat apa-apa, pada saat itu pula turunlah ayat ini sebagai jawaban atas pertanyaan mereka.
Adapun yang ke dua: Ketika Nabi Sulaiman diceriterakan atau disebutkan dalam al-Qur'an, berkatalah orang-orang Yahudi Madinah: Tidakkah engkau merasa heran kepada Nabi Muhammad, dia mengira bahwa Ibnu Daud (Nabi Sulaiman) itu adalah seorang Nabi. Demi Allah, bukanlah dia melainkan seorang tukang sihir. Betepatan dengan ini turunlah ayat ini untuk menghapus pandangan orang-orang Yahudi Madinah.
وما كفر سليمان ولكن الشياطين كفروا..............
"dan Nabi Sulaiman itu tidak kufur (melakukan sihir), tetapi syaithan-syaithan itulah yang kufur............

Syarah Mufradat
Sihir menurut bahasa;
Menurut Imam Ar-Raghib Al-Ashfahany; sihir ialah sesusatu yang lembut atau halus. Beliau juga memberikan pengertian as-sihru mengandung pengertian al-khid'u yang berarti menipu.
Imam al- Ajhary berpendapat: Asal atau pokok pada sihir itu ialah membelokkan, mengecoh, memalingkan dari hakekat kepada yang lainnya. Maka seolah-olah penyihir itu ketika memperlihatkan sesuatu yang bathil itu benar. Maka orang-orang pun berkhayal bahwa itu benar-benar terjadi. Sesutau telah menyihir dari wajahnya mengandung pengertian dia telah dipalingkan atau terkecoh.
Menurut Imam al-Jauhary: as-sihru berarti al-khad'u yang artinya menipu, disebut demikian karena membelokkan atau mengecoh pandangan orang-orang sehingga mereka berpandangan bahwa apa yang dilakukan penyihir merupakan sesuatu hal yang nyata dan benar.

Syarah Ijmaly
Ayat ini mengandung niat busuk orang-orang Yahudi dan usaha untuk mencelakakan hamba-hamba Allah dari jalan-Nya yang lurus.
Sihir belum dikenal sama sekali kecuali di kalangan orang-orang Yahudi, ini menunjukkan bahwa segala macam sihir itu bersumber dari Yahudi.
Mereka melanggar kitab Allah dan mengikuti langkahkah-langkah atau cara-cara syaitahan, hati mereka sudah tertutup dari cahaya kebenaran dan berlumur dengan kebathilan.
Mereka (orang-orang Yahudi) giat mempelajari sihir dan mengajarkannya kepada orang lain, ini bertujuan tiada lain dan tiada bukan hanyalah untuk menyesatkan manusia, agar mereka jauh al-Qur'an dan bodoh akan agama Allah yang mulia.
Ketahuilah, mereka sudah menjadi budak-budak syaithan yang terlaknat.

Sesungguhnya orang-orang Yahudi melemparkan kitab Allah ke belakang punggung-punggung mereka dalam arti mereka tidak mau menjadikan kitab Allah menjadi pedoman hidup mereka. Seolah-olah mereka tidak tahu bahwa itu adalah kitab Allah yang telah diturunkan kepada Nabi Saw. dan mereka mengikuti jalan-jalan syaithan seperti mempelajari sihir dan sulap-menyulap yang mereka pelajari di masa kerajaan Nabi Sulaiman. Ingatlah Nabi Sulaiman itu bukanlah seorang penyihir tetapi syaithanlah yang selalu membisik-bisikan kepada manusia dan meyakinkan kepada mereka bahwa mereka (syaithan-syaithan) itu mengetahui hal-hal yang ghaib, dan mengajarkan sihir kepada mereka sehingga tersebarlah ilmu sihir di kalangan manusia.
Sebagaimana pemuka-pemuka Yahudi, mereka mengikuti jalan-jalan sihir dan mempelajari sulap-menyulap. Demikian pula mereka mengikuti apa yang telah diturunkan kepada dua malaikat yaitu Harut dan Marut tepatnya di Babil.
Sungguh Allah Swt. Telah menurunkan keduanya untuk mengajarkan sihir, sebagai suatu ujian bagi manusia. Dan mereka mengajarkan sihir itu bukan untuk sihir akan tetapi untuk menajauhkannya. Dan supaya mereka menampakkan kepada manusia mengenai perbedaan antara mukjizat dan sihir.

Hanya Allah Ta'ala yang berhak menguji hamba-hamba-Nya atas apa-apa yang ia kehendaki. Sebagaimana diujinya kaum Luth dengan sungai.
Dan sungguh sudah bertambah banyak sihir-sihir pada masa itu. Karena bertambah banyaknya sihir-sihir pada masa itu, sehingga menyebabkan runtuhkan keyakinan tehadap kenabian. Lalu Allah Ta'la mengutus dua malaikat ke muka bumi ini untuk mengajarkan sihir. Sesungguhnya keduanya telah memperingatkan kepada manusia dari melakukan sihir dan mempergunakannya dalam kejelekan dan kemadlaratan. Tiap kali mereka mengajarkan kepada manusia tentang sihir, mereka selalu berkata: "Hanyalah ini merupakan ujian dari Allah, maka janganlah kalian kufur karena itu". Dan bertakwalah kepada-Nya dan jangan mempergunakan sihir itu dalam kemaldaratan.

Maka barang siapa yang mempelajarinya untuk menghindari bahayanya, maka dia sealamat dan tetap dalam keimanan. Sebaliknya barang siapa yang mempelajarinya untuk menyakiti atau memberikan kemaldaratan kepada manusia, maka dia termasuk orang-orang yang sesat dan telah kufur. Sedangkan manusia itu ada dua golongan, golongan pertama yaitu mereka yang berniat baik dan tidak membahayakan orang lain, mereka inilah orang-orang yang beruntung. Adapun golongan yang kedua, mereka berniat busuk atau jelek yaitu untuk mencelakakan manusia dan memberikan kemadlaratan kepadanya, mereka inilah orang-orang yang rugi dunia maupun akhirat.
Maka syurga tak pantas bagi mereka, nerakalah tempat yang seburuk-buruk bagi mereka. Na'udzu billahi min dzaalika.

Sekiranya mereka, orang-orang yang mempelajari sihir beriman kepada Allah dan takut akan azab Allah, niscaya mereka akan diberikan ganjaran oleh Allah dengan ganjaran yang berlipat ganda terhadap apa-apa yang telah mereka kerjakan.
Dari urusan-urusan yang berbahaya ini, sesungguhnya tidak akan dihasilkan sedikitpun kemanfaatan, tetapi sebalikkan akan menimbulkan kecelakaan, kerugian, dan kehancuran .

Kesimpulan

1. Nabi Sulaiman adalah seorang Nabi juga seorang Raja. Dan dia bukanlah seorang penyihir

2. Syaithan menghiasi manusia dengan sihir agar manusia menjadi kufur kepada Tuhannya dan membisikan mereka bahwa (syaithan- syaithan) itu mengetahui hal-hal yang ghaib

3. Sihir itu mempunyai hakekat dan dampak atau akibat kepada diri kita

4. Allah Swt. Maha menghengdaki untuk menguji hamba-hamba-Nya

5. Barangsiapa yang menukarkan sihir dengan Kitab Allah, maka di hari kelak nanti ia tidak akan mempeoleh rahmat dari Tuhannya

6. Beruntunglah orang-orang yang beriman kepada Allah dan tidak mencampuradukkan keimanan mereka dengan sihir. Kelak mereka akan memperoleh pahala dan rahmat yang tak

Selasa, 29 September 2009

Makna Silaturahmi

Makna Silaturahmi

Diantara ayat yang sering dijadikan dasar bahwa kita wajib bersilaturahmi adalah surat Annisa ayat 1 yang didalamnya terdapat kalimat yang berbunyi, Wataqullâh alladzî tasã`alûna bihî wal arhâm… “Dan bertakwalah kepada Allâh yang dengan (mempergunakan) nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain, dan (peliharalah) hubungan silaturrahim.”

Arhâm bentuk jama dari kata rahim yang berarti kandungan. Imam Alqosimi di dalam tafsirnya memberikan pengertian dengan makna “wattaqul arhâm” (nitip rahim, nitip kandungan).

Sepintas terasa agak aneh, Allâh menitipkan kandungan, tapi menurut ahli ilmu bayan/balaghoh kalimat seperti ini termasuk kalimat Majaz Mursal, min ithlaqil mahâl lil iradati hâl, disebut tempat yang dimaksud adalah yang menempatinya.

Wattaqul arhâm. Nitip kandungan jelas maknanya adalah yang keluar dari kandungan yaitu anak dan keturunan. Jadi kalau kita tarik pemahaman dari kalimat yang diambil dari surat Annisa ayat 1 tadi. Allâh berpesan bertakwalah kamu kepada Allâh wahai para orang tua dan didik (jaga) anak keturunan kamu supaya mereka menjadi manusia-manusia yang bertakwa juga.

Di lingkungan kita banyak yang memahami makna silaturahmi itu sebatas mengadakan pertemuan keluarga atau pertemuan warga. Lalu saling mengenalkan hubungan kekerabatan; ini kakek, paman, bibi, keponakan, dstnya. Memang itu pun mempunyai nilai positif, tapi yang disebut silaturahmi tidak sebatas itu, bukan hanya memperkuat hubungan kekerabatan semata, yang lebih esensial (penting dan mendasar) adalah bagaimana memperkuat hubungan keimanan, ketakwaan pada lingkungan keluarga masing-masing.

Dalam tafsir Ibnu Katsier tercatat sebuah hadits yang diriwayatkan Ibnu Jarir, Rasûlullâh Saw., bersabda, “Nanti di hari kiamat diantara hamba-hamba Allâh ada sekelompok orang yang mendapat tempat istimewa di surga, mereka itu bukan para Nabi juga bukan Syuhada, malah para Nabi dan Syuhada tertarik dengan kedudukan mereka di sisi Allâh pada hari kiamat. Mendengar pernyataan seperti para sahabat semangat untuk bertanya, ‘Yaa Rasûlullâh, manusia macam apakah yang akan mendapat tempat istimewa di surga?’ Nabi tidak menyebut nama juga kelompok, tapi menyebutkan sifat, mereka yang akan mendapatkan tempat istimewa di surga adalah yang ketika hidupnya di dunia saling mencintai, menyayangi dengan dasar karena Ruh Allâh (keimanan, keislaman dan ketakwaan) bukan karena ikatan harta atau keturunan.”

Wajar jika seorang kakek sayang kepada cucunya karena ada hubungan famili, pantas jika mertua sayang kepada menantu karena terikat oleh anak, normal jika seorang pedagang sayang kepada pelanggan karena ada ikatan simbiosa mutualistis (hidup saling menguntungkan yang terkait dengan harta). Tapi ternyata yang membawa akibat yang positif nanti di akhirat -sampai di tempatkan di kelas istimewa di surga-, bukan ikatan kekeluargaaan atau bisnis, tapi lebih karena ikatan rasa keimanan, keislaman, dan ketakwaan.

Oleh sebab itu maka yang di maksud dengan silaturahmi jelas bukan hanya sebatas mengumpulkan keluarga dan saling mengenalkan hubungan kekerabatan tapi bagaimana kita memperkokoh kualitas keimanan dan ketakwaan dalam keluarga kita.

Bukankah putra Nabi Nûh yang bernama Kan’an oleh Allâh ditenggelamkan di lautan banjir besar. Ketika Nabi Nûh meminta pertolongan kepada Allâh untuk menyelamatkan anaknya, Allâh menjawab, “Wahai Nûh, dia (Kan’an) bukan keluargamu!.” Ahli tafsier memaknai karena dia (Kan’an) tidak beramal sholeh seperti bapaknya (Nûh).

Dari cerita Nûh dan anaknya kita bisa belajar bahwa makna silaturahmi itu tidak hanya sebatas bersalaman mengadakan pertemuan tetapi yang paling penting adalah bagaimana kita memperkokoh kualitas keimanan, keislaman, dan ketakwaan dalam lingkungan keluarga kita sehingga kita bersama-sama menjadi manusia-manusia yang bertakwa.

“Dan orang-orang yang beriman dan yang anak cucu mereka mengikuti mereka dalam keimanan, Kami hubungkan anak cucu mereka dengan mereka, dan Kami tiada mengurangi sedikitpun dari pahala amal mereka. Tiap-tiap manusia terikat dengan apa yang dikerjakannya.” (Qs. Ath-Thuur [52]:21)

Mudah-mudahan kita diberi kekuatan oleh Allâh untuk menjaga dan memelihara silaturahmi khususnya dilingkungan keluarga kita masing-masing.

Khutbah kedua
Jika akhir-akhir ini ada gejala munculnya kembali orang mengaku Nabi dan ada pula aliran yang mengingkari sunnah Nabi. Sebenarnya gejala ini sudah diprediksi oleh Nabi sebelumnya, seperti sabdanya, “Tidak akan terjadi kiamat sehingga bermunculan Dajal-Dajal yang semuanya mengaku dirinya sebagai Rasûlullâh.” Sedangkan Allâh dalam firman-Nya dengan tegas menyatakan posisi Nabi Muhammad sebagai, “Rasûlullâh dan penutup para Nabi.” (Qs. Al Ahzab [33]:40)

Dalam Shohih Bukhari Nabi bersabda, “Bani Isrâil adalah sebuah bangsa yang secara terus menerus dibimbing oleh para Nabi, setiap Nabi wafat, Allâh menurunkan Nabi pengganti. Dan sesungguhnya tidak akan ada lagi Nabi sesudahku, yang ada adalah para khalifah dan jumlahnya banyak.”

Jadi baik ayat Alqurân atau hadits Nabi sudah menegaskan bahwa Muhammad Saw., adalah Nabi dan Rasûl terakhir. Jika kemudian ada orang mengaku Nabi, kita tidak perlu kaget karena itu sudah muncul sejak zaman Nabi sendiri; tokoh yang bernama Musailamah Al-Kadzab, termasuk yang kemudian muncul tokoh Ahmadiyah, Mirza Ghulam Ahmad.

Rasûlullâh Saw., bersabda, “Sesungguhnya Allâh tidak mengutus seorang Nabi pun kecuali pasti mengingatkan kepada umatnya bahwa akan muncul Dajal dan aku adalah Nabi terakhir dan kalian adalah umat terakhir. Dan Dajal akan muncul diantara kalian. Dajal itu akan nampak dan berkata, ‘Aku adalah Nabi’ padahal tidak ada lagi Nabi sesudah aku.”

Dengan dalih apapaun, argument bagaimanapun, sebanyak apapun pengikutnya jika mengaku Nabi sesudah Nabi Muhammad itulah yang disebut Dajal. Artinya tidak boleh kita ikuti, kita imani, apalagi jika dia menganjurkan untuk meninggalkan kewajiban-kewajiban sebagai seorang muslim.

Mudah-mudahan kita tetap ada dalam hidayah Allâh, tidak terkecoh dan terbujuk oleh kelompok-kelompok yang akan menyesatkan kita, membawa kita ke arah yang jauh dari ridlo Allâh Swt.[*]

Ringkasan Khutbah Jum'at Masjid Persatuan Islam Pajagalan Bandung
Jum'at Pertama, 02 November 2007
Khatib: KH. Drs. Shiddiq Amien, MBA

Minggu, 27 September 2009

صوم الست من شوال

عن أبى أيوب الأنصارى (1) رضى الله عنه أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال : " من صام رمضان ثم أتبعه ستاً من شوال كان كصيام الدهر " .( رواه مسلم (2) ) .

هذا الحديث يدل على فضل عظيم وعطاء كريم من الله سبحانه ، وعلى المسلم : أن يتعرض لهذا العطاء الوافر من الله سبحانه ، ولا يحرم نفسه من ذلك .

والصوم خمسة أقسام :


1. صوم واجب بإيجاب الله تعالى ، وهو معين ، وهو : شهر رمضان .

2. صوم واجب بإيجاب الله تعالى مضمون فى الذمة ، كصيام الكفارات ( كفارة اليمين لمن عجز عن الإطعام ، وكفارة الجماع فى نهار رمضان ، وكفارة القتل الخطأ ) وكصيام القضاء لما أفطره فى رمضان .

3. صوم واجب بإيجاب الإنسان على نفسه معين ، كنذر صوم يوم ، أو أيام بعينها .

4. صوم واجب بإيجاب الإنسان على نفسه مضمون فى الذمة غير معين ، كنذر صوم يوم ، أو أيام بغير تعيين .

5. صوم التطوع .وصوم التطوع منه ما هو محدد فى الأيام من العام ، كصوم عرفة وعاشوراء ، ومنه : ما يأتى من جملة الصالحات ، كالتسع الأولى من ذى الحجة لحديث : " ما من أيام العمل الصالح فيها خير من هذه الأيام العشر .. " ومنها : ما هو مطلق فى الشهور المعينة ، كصيام شعبان والمحرم ، والصوم فى الأشهر الحرم ، وصوم الست من شوال ، ومنها : ما هو مطلق فى الشهور غير معينة ، كصيام ثلاثة أيام فى كل شهر ، وقد يخص منها الأيام البيض ( القمرية ) ، ومنها : صيام الإثنين والخميس .

وأفضل الصيام عند الله : صيام داود ، كان يصوم يوماً ، ويفطر يوماً .ويحرم الصوم فى العيديد ، ويحرم صوم الشك ، وهو ليس يوم الثلاثين من شعبان إنما هو اليوم الذى يُشك فيه هل هو آخر يوم من شعبان ( ثلاثين منه ) أو هو يوم من أيام رمضان ، لأن الهلال غُم على الناس فلم يستن لهم طلوعه من عدمه .

ويكره الصوم فى أيام التشريق ، وهى : الأيام الثلاثة بعد عيد الأضحى ، لأنها أيام أكل وشرب وذكر لله تعالى .ويكره إفراد الجمعة أو السبت بالصوم تطوعاً ، إلا أن تصوم يوماً قبله ، أو يوماً بعده .

صوم الست من شوال :


فرض الله تعالى على الذين آمنوا صوم شهر رمضان ، وقد شرع لنا النبى صلى الله عليه وسلم الصوم قبله فى شعبان ، لحديث عائشة رضى الله عنها قالت : لم يكن النبى صلى الله عليه وسلم يصوم فى شهر أكثر من شعبان ، فإنه كان يصوم شعبان كله إلا قليلاً ( متفق عليه ) .
وقد شرع الصوم بعده فى شوال لحديث أبى أيوب : " من صام رمضان وأتبعه ستاً من شوال كان كصيام الدهر " فكانت كالراتبة من نوافل الصلاة قبلها وبعدها .

ومعلوم أن أعظم النوافل أجراً : النوافل الراتبة ، وهى : ركعتان قبل الصبح ،وأربع قبل الظهر ، وركعتان بعده ، وركعتان بعد المغرب ، وركعتان بعد العشاء .

شوق إلى الصوم :


ولما كان الحديث القدسى : " كل عمل ابن آدم له إلا الصوم فإنه لى وأنا أجزي به .. " فإذا استشعر المسلم معنى ( فإنه لى ) ، وخالط هذا المعنى شغاف قلبه ، أحب الصوم ، وتمنى ألا ينتهى من رمضان أبداً ، ولكن كيف ينال ذلك ورمضان يبدأ بالهلال وينتهى بالهلال ؟! هذا الشوق يؤهل العبد لمكافأة من الله وعطاء كبير ، حيث يجعل له صوم ستة أيام من شوال تكمل له حلقة العام مع رمضان ، فيصبح كمن صام العام كله ، ومن كان هذا شأنه دائماً ، فكأنما صام العمر كله ، وذلك عطاء من الله سبحانه لمن إذا خرج من العبادة أحب العودة إليها ، وعليه يمكن حمل الأجور العظيمة على الأعمال اليسيرة بعد العبادة كحديث : " ألا أعلمكم شيئاً تدركون به من سبقكم ، وتسبقون به من بعدكم ، ولا يكون أحد أفضل منكم إلا من صنع مثل ما صنعتم ؟ " قالوا : بلى يا رسول الله ، قال : " تسبحون ، وتحمدون ، وتكبرون ، خلف كل صلاة ثلاثاً وثلاثين .. " .

فمن صام رمضان ، أى : أتم أيامه صياماً حتى طلع عليه هلال شوال ، ثم أتبعه ستاً من شوال ، أى : بعد عيد الفطر ، لأنه معلوم أن العيد لا يجوز صومه لا فى قضاء ولا كفارة ولا تطوع .

فيبدأ الصوم من اليوم الثانى أو ما بعده إلى أن يتم صومه الأيام الستة متتابعة أو متفرقة فى أول الشهر ، أو فى وسطه ، أو فى آخره ، بهذا كله يكون قد تحقق له أنه ( أتبعه ستاً من شوال ) .

حكم صوم الستة من شوال :


قال القرطبى : ( واختلف فى صيام هذه الأيام ، فكرهها مالك فى موطئه ، خوفاً أن يلحق أهل الجهالة برمضان ما ليس منه ) . وقد وقع ما خافه ، حتى إنه كان فى بعض بلاد خراسان يقومون لسحورها على عادتهم فى رمضان ، وروى مطرف عن مالك أنه كان يصومها فى خاصة نفسه . واستحب صيامها الشافعى ، وكرهه أبو يوسف ( انتهى ) .

ولقد استحب صيامها جمهور العلماء إلا المالكية ، فكرهوا صيامها إذا اجتمعت شروط أربعة ، فإن تخلف منها شرط أو أكثر لم يكره صيامها عند المالكية ، وهذه الشروط هى :
1. أن يكون الصائم ممن يقتدى به ، أو يخاف عليه أن يعتقد وجوبها .
2. أن يصومها متصلة بيوم الفطر .
3. أن يصومها متتابعة .
4. أن يظهر صومها .

صيام الدهر (3) :قوله صلى الله عليه وسلم : " كان كصيام الدهر " أى : كتب له أجر من صام كل يوم فلم يفطر ، ولقد أخرج الدارمى فى سننه عن ثوبان أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال : " صيام شهر بعشرة أشهر ، وستة أيام بعدهن بشهرين ، فذلك تمام سنة " يعنى : شهر رمضان ، وستة أيام بعده .وذلك أن الحسنة بعشر أمثالها ، وإنما يرجى ذلك لمن أنس العبادة وأحبها ، وذلك فوق التضعيف الخاص بالصوم فى قوله : " فإنه لى " فهو تضعيف ، وزيادة فوق ذلك التضعيف وتلك الزيادة والله أعلم .قوله صلى الله عليه وسلم : " كصيام الدهر " مع أن الأحاديث قد جاءت بالنهى عن صيام الدهر .

لكن التشبيه هنا : أن من أراد أن يحصل على ثواب صوم الدهر فعليه بصيام ستة ايام من شوال بعد رمضان ، فيضاعف له الثواب حتى يجوز من الأجر كأنه لم يفطر أبداً . بل إن حديث عبد الله بن عمرو رضى الله عنهما أن النبى صلى الله عليه وسلم قال له : " صم من الشهر ثلاثة أيام فإن الحسنة بعشر أمثالها ، وذلك مثل صيام الدهر " .

فكان من صام رمضان وأتبعه ستاً من شوال وصام ثلاثة أيام من كل شهر بعد ، كان كمن صام دهرين فى عمره ، وذلك مما اختص الله سبحانه به هذه الأمة على قصر أعمارها ، فإن الله سبحانه ضاعف لها أعمالها ، فتسبق الأمم بذلك العطاء العظيم من الله سبحانه .

قضاء رمضان وصوم شوال :


ومعلوم أن القضاء فريضة ، فهى على الوجوب ، أما صوم شوال فنافلة ما لم ينذره العبد فيصبح عليه فريضة بنذره ، والقضاء مقدم على صوم النافلة ، فإن استطاع العبد القضاء فى شوال ، ثم صام الستة بعدها فعل ذلك ، وإن خاف لو صام الستة من شوال ألا يستطيع القضاء على مرور العام حتى رمضان الذى يليه ، تعيين عليه القضاء فى شوال دون الستة .
فإن كان لا يتسع شوال عنده للستة مع القضاء ، وهو يرجو أن يفرق القضاء بعد ذلك على أيام العام ، جاز له صوم الستة فى شوال ، وتأخير القضاء إلى ما بعده ذلك ، لأن وقت الستة من شوال محصور فيه ، أما القضاء فوقته مُوسع على العام كله ، لقوله تعالى : " فَعِدَّةٌ مِنْ أَيَّامٍ أُخَرَ " ( البقرة : 185 ) ، وذلك مراعاة لوظيفة الوقت المضيقة دون ما كان وقته موسعاً. والله أعلم بالصواب .

محمد صفوت نور الدين

-----------------
(1) أبو أيوب الأنصارى ، واسمه : خالد بن زيد بن كليب ، من بنى النجار ، شهد العقبة وبدراً وأحداً والمشاهد كلها ، وكان مع على بن أبى طالب - رضى الله عنه - ، ومن خاصته ، وشهد الجمل والنهروين ، ثم غزا أيام معاوية - رضى الله عنه - ،أرض الروم مع يزيد سنة إحدى وخمسين ، ومات عند مدينة القسطنطينية ، وقد آخى النبى صلى الله عليه وسلم بين أبى أيوب ومصعب بن عمير .وأبو أيوب : هو الذى نزل النبى صلى الله عليه وسلم فى بيته لما قدم المدينة إلى أن بنى المسجد ، ثم بنى بيته إلى جوار المسجد فتحول النبى صلى الله عليه وسلم عن بيت أبى أيوب إلى بيته . وذلك أن النبى صلى الله عليه وسلم لما هاجر نزل فى بنى عمرو بن عوف خمسة أيام ثم انتقل إلى المدينة ، وقد ركب ناقته وأرخى زمامها ، والناس على جنبتى الطريق يقولون : تعالى يا رسول الله صلى الله عليه وسلم إلى العدد والعدة والعزة والمنعة ، ويأخذون بخطام الراحلة فيقول صلى الله عليه وسلم : " دعوها فإنها مأمورة " حتى ناخت فى بنى مالك بن النجار . فلما نزل عنها النبى صلى الله عليه وسلم انشغل الناس به يأخذونه إلى بيوتهم ، أما أبو أيوب فحمل رحل النبى صلى الله عليه وسلم فأدخله إلى بيته ، فقال النبى صلى الله عليه وسلم : " المرء مع رحله " .ويذكر أبو أيوب : أن النبى صلى الله عليه وسلم نزل فى بيته الأسفل فكسر إناء الماء فسكب الماء فى الغرفة ، فقام هو وزوجه ليجففا الماء بالثوب الذى يلتحفون به مخافة أن ينزل شىء منه على النبى صلى الله عليه وسلم ، قال أبو أيوب : فقلت : يا رسول الله صلى الله عليه وسلم إنه لا ينبغى أن نكون فوقك ، فانتقل رسول الله صلى الله عليه وسلم إلى الغرفة . فانظر إلى أب أيوب يبقى مجاهداً حتى آخر عمره فيموت غازياً فى سنة أحدى وخمسين وقد طعن فى السن ، ويقول : قال الله تعالى : " انْفِرُوا خِفَافًا وَثِقَالًا " ( التوبة : 41 ) فلا أجدنى إلا خفيفاً أو ثقيلاً . ومناقبه كثيرة رضى الله عنه .

(2) الحديث رواه مسلم وأبو داود وابن ماجه وأحمد والدرامى فى سننه ، والحديث مروى كذلك عن ثوبان وأبى هريرة وابن عباس والبراء بن عازب وعائشة .

(3) فى الصحيح : أن سائلاً سأله عن صوم الدهر . فقال : " من صام الدهر فلا صام ولا أفطر " ، قال : فمن يصوم يومين ويفطر يوماً ، فقال : " ومن يطيق ذلك ؟! " قال : فمن يصوم يوماً ، ويفطر يومين ، فقال : " وددت أنى طوقت ذلك " ، فقال : فمن يصوم يوماً ويفطر يوماً ، فقال : " ذلك أفضل الصوم " فسألوه عن صوم الدهر ، ثم عن صوم ثلثيه ثم عن صوم ثلثه ثم صوم شطره .
وأما قوله : " صيام ثلاثة ايام من كل شهر يعدل صيام الدهر " وقوله : " من صام رمضان وأتبعه ستاً من شوال فكأنما صام الدهر ، الحسنة بعشر أمثالها " ونحو ذلك . فمراده : أن من فعل هذا يحصل له أجر صيام الدهر بتضعيف الأجر ، من غير حصول مفسدة . فإذا صام ثلاثة أيام من كل شهر حصل له أجر صوم الدهر بدون شهر رمضان .
وإذا صام رمضان وستاً من شوال حصل بالمجموع أجر صوم الدهر ، وكان القياس أن يكون استغراق الزمان بالصوم عبادة ، لولا ما فى ذلك من المعارض الراجح ، وقد بين النبى صلى الله عليه وسلم الراجح ، وهو إضاعة ما هو أولى من الصوم ، وحصول المفسدة راجحة فيكون قد فوت مصلحة راجحة واجبة أو مستحبة ، مع حصول مفسدة راجحة على مصلحة الصوم .
وقد بين صلى الله عليه وسلم حكمة النهى ، فقال : " من صام الدهر فلا صام ولا أفطر " فإنه يصير الصيام له عادة ، كصيام الليل فلا ينتفع بهذا الصوم ، ولا يكون صام ، ولا هو أيضاً أفطر .
ومن نقل عن الصحابة أنه سرد الصوم ، فقد ذهب إلى أحد هذه الأقوال ، وكذلك من نقل عنه أنه كان يقوم جميع الليل دائماً ، أو أنه يصلى الصبح بوضوء العشاء الآخرة ، كذا كذا سنة ، مع أن كثيراً من المنقول من ذلك ضعيف .
وقال عبد الله بن مسعود لأصحابه : أنتم أكثر صوماً وصلاة من أصحاب محمد ، وهم كانوا خيراً منكم ، قالوا : لم يا أبا عبد الرحمن ؟ قال : لأنهم كانوا أزهد فى الدنيا ، وأرغب فى الآخرة . فأما سرد الصوم بعض العام ، فهذا قد كان النبى صلى الله عليه وسلم فعله .
قد كان يصوم حتى يقول القائل : لا يفطر ، ويفطر حتى يقول القائل : لا يصوم . ( من مجموع الفتاوى ج22 ص 302 - 304 ) .






محمد صفوت نور الدين

Sabtu, 26 September 2009

ليس للسعودية .. خصوصية

هكذا ينادي تلميحا أو تصريحا بعض من لايقدر للمقدسات قدرها، ولا للدين حرمته، ولا لهذا البلد الكريم مكانته...

وبهذا يطالب من لايريد لمجتمعنا صفاؤه، ولا لحكومتنا علوها ورفعتها، ولا لهذا الشعب الأبي منرلته وتميزه بين الشعوب...

بل البعض يحاول بطرق شتى التهوين من قضية القداسة والتقليل من شأن المقدسات وأنها مجرد مسميات؛وقد يشكك في صحة وصفها بالتكريم والنور!!

ولعل من أسباب ذلك ضعف قناعة جمهورهم بهويتهم الإسلامية، وأرومتهم العربية، وشعورهم بالانهزامية، وتأصل تيعية المغلوب للغالب في أنفسهم، وطول معايشة جلهم للغرب وأرتباطهم بأهله، أو إدمانهم على كتاباتهم وثقافاتهم وانبهارهم بالتقدم التقني لديهم وانصهارهم بحضارتهم المادية ، وتشرب قلوبهم عاداتهم السيئة وسلوكياتهم الخاطئة، حتى كادت أن تكون جبلة تغلب على كثير من تصرفاتهم، مما جعلهم يتعامون عن قبحها، وسوء مافيها من تفلت أخلاقي وانحراف سلوكي، وفساد إجتماعي، فضلاً عن الانحراف العقدي الذي لايمكن إغفاله..

بل بلغ بهؤلاء الوهم أن ظنوا أنها سبب تقدمهم، فحملهم ذلك إلى المطالبة بتبعية - لهم - لاضابط لها، وانفتاح - عليهم - لاحد له، وسعوا جاهدين لصبغ المجمتع السعودي العربي المسلم المحافظ بصبغة غربية عجمية كافرة منحلة تخالف عادتنا الأصيلة وتقاليدنا العريقة المستمدة من شرعنا الحنيف، متجاهلين أن هذه البلاد هي جزيرة العرب، ومهد الإسلام، ومأرز الإيمان، ضاربين بعرض الحائط النصوص الشرعية والأدلة العقلية والشواهد الحية المؤكدة أن عز هذه البلاد وسؤددها مرتبط بالإسلام عقيدة ومنهجا وسلوكا..

وأنها أرض الاسلام الذي لاتقبل سواه قال عليه الصلاة والسلام (لايجتمع دينان في جزيرة العرب) وقال تعالى عن أرض الحرم : {ومن يرد فيه بإلحاد بظلم نذقه من عذاب أليم} وغير مبال بالتصريحات الواضحة الجلية من حكام هذه البلاد وقادتها المؤكدة على اتخاذ الكتاب والسنة دستورا ومنهجا في جميع مناحي الحياة،

ومايشهده الواقع من كون المملكة العربية السعودية محط أنظار العالم الإسلامي كله،واعتبارها المستحقة بكل إقتدار قيادته وتمثيله في سائر المحافل، يلزمها التمسك-حكومة وشعبا- بأهداب الشريعة والالتزام بالمنهج والدستور الذي أرتضته لنفسها وعرفها العالم به، وعدم الانسياق وراء الدعايات المضللة التي ينادي بها ويدعوا إليها - بحسن نية أو خبث طوية - بعض من يتكلم بألستنا،وينتسب إلى بلادنا..

وقد يشهر لتحقيق ذلك سلاح العلم الحديث، أو يرتدي لباس الوطنية ، أو يمتطي صهوة الدين، ليموه على الناس، منقبا عن الخلافات الفقهية، مستدلا بما ضعف وشذ من الآثار، ومعرضا عن كلام علمائنا الذين تلقت الأمة فتاواهم بالقبول، بدعوى التطور والتحضر وعدم الانعزال عن العالم ،أو التخلف عن ركب الحضارة والتقوفع على الذات، وادعاء أن الخصوصية تنفص لبقية الشعوب، ونحو ذلك من الدعاوى الفجة التي يزبد بها ويرعد من خسر الرهان وعجز عن البرهان..!

وغفلوا أو تغافلوا أن تميزنا إنما هو نابع عن خصوصيتنا،و لا خصوصية لنا إلا بالتمسك بديننا الذي يدعوا إلى إعمار الأرض،وإصلاح الكون،وإتباع سنة رسولنا صلى الله عليه وسلم الذي يحث على كل مافيه خير للبشرية التي إنما تطورت يوم كانت متبعه لهدية واستنار الغرب بعد تخبطه في دياجير الظلام حين اقتبس من علوم الشريعة مايضيء له دربه في شتى مناحي الحياة..

أفلا يحق لنا-إذا- أن نفخر بخصوصيتنا وقبلة المسلمين لاتوجد إلا في بلادنا؟ وماالذي يمنعنا من الاصرار على خصوصيتنا وبين أظهرنا جثمان إمام البشرية ونبي الانسانية؟

والخصوصية لا تمنع من الاستفادة مما لدى الآخرين من علوم دون التخلي عن ديننا وعاداتنا وقيمنا،قال تعالى : { قل ياأيها الكافرون * لاأعبد ماتعبدون } وقال عليه الصلاة والسلام : \"من تشبه بقوم فهو منهم\" ..


بقلم : حميدان بن عجيل الجهني .
المشرف العام على شبكة مفكرة الدعاة .



حميدان بن عجيل الجهني

ماذا بعد رمضان ؟

ماذا بعد رمضان ؟


يجب أن يكون العبد مستمراً على طاعة الله ، ثابتاً على شرعه ، مستقيماً على دينه لا يروغ روغان الثعالب يعبد الله في شهر دون شهر .. أو في مكان دون آخر .. أو مع قوم دون آخرين .. لا .. وألف لا !!

بل يعلم أن رب رمضان هو رب بقية الشهور والأيام ، وأنه رب الأزمنة والأماكن كلها ، فيستقيم على شرع الله حتى يلقى ربه وهو عنه راض .

قال تعالى { فاستقم كما أمرت ومن تاب معك } [هود:112]

وقال عز وجل { فاستقيموا إليه واستغفروه } [فصلت:6]

أخي الكريم : جدير بكل مسلم يخاف الله تعالى أن يقف مع نفسه بعد هذا الشهر الكريم ليحاسبها ، فمحاسبة النفس من أنجع الأدوية بإذن الله لإصلاح القلوب وحثها على الخير ، وها نحن قد ودعنا رمضان المبارك بأيامه الجميلة ولياليه العطرة الفواحة بالروحانية ، ودعناه ومضى ، ولا ندري هل سندركه في عام قادم أم ستنتهي آجالنا دونه ؟